Selasa, 31 Mei 2016

DEATH NOTE:ANOTHER NOTE- LOS ANGELES BB MUREDER CASES

                 Ok, tanpa banyak bacot lagi silahkan nikmati baca online disini atau di web aslinya di chiaki-ichirin.blogspot.co.id atau download di sini novel1 pake media fire bagian satu dulu ya. dah sok lah tinggal dibaca.

RYUZAKI

Translated by Azca Sky
Edited by Shiazen
Disclaimer: Nisio Isin

L telah dimusuhi oleh para detektif lain, dan beberapa yang iri
padanya memanggilnya detektif pertapa, atau detektif komputer,
namun tak satupun akurat untuk menggambarkan kenyataannya.
Naomi Misora juga telah cenderung untuk berpikir bahwa L
adalah detektif yang selalu duduk di kursi, namun nyatanya, L
adalah kebalikannya, seorang individu yang aktif dan agresif.
Meskipun ia sama sekali tidak tertarik pada pergaulan sosial, yang
pasti ia juga bukan jenis detektif yang mengunci dirinya sendiri di
ruangan gelap berbayangbayang
dan menolak untuk keluar.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebenarnya perang detektif
hebat, L, Eraldo Coil, dan Danueve sebenarnya adalah orang
yang sama. Bisa dipastikan, siapapun yang membaca catatan ini
hampir pasti tahu… meskipun mereka mungkin tidak tahu bahwa
L mengalami perang dengan Eraldo Coil asli dan Danueve asli,
dan membuktikan kemenangan, (mengklaim kode detektif
mereka. Detail dari perang detektif ini akan kusimpan untuk saat
yang lain, tapi termasuk tiga nama itu, L memiliki banyak kode
detektif lainnya. Aku tidak tahu berapa banyak, tetapi paling tidak
ada sekitar tiga digit. Dan banyak dari mereka adalah detektif
terkenal – misalnya, seperti siapapun yang membaca catatan ini
pasti tahu, ia muncul di hadapan Kira, memanggil dirinya sendiri
Ryuzaki atau Ryuga Hideki.) Tentu saja, Naomi Misora tidak akan
mungkin tahu mengenai ini, namun menurut pendapatku, nama L
adalah, untuknya, hanya satu dari sekian banyak nama lain. Ia
tidak pernah memiliki satu pun hubungan langsung pada identitas
itu. Ia tidak pernah berpikir dirinya sendiri sebagai L, itu hanyalah
nama yang paling terkenal dan berkuasa dari banyak kode
detektif yang telah ia gunakan seumur hidupnya. Nama itu
memiliki kegunaannya, namun kurang misterius. L memiliki
sebuah nama asli yang tidak seorang pun mengetahuinya, dan
tidak akan pernah, tapi sebuah nama yang ia tahu tidak pernah
mendefinisikannya. Aku terkadang ingin tahu jika L sendiri pernah
mengetahui tepatnya nama yang mana yang telah ditulis dalam
Death Note, yang mana yang telah membunuhnya.
Aku ingin tahu.
Tapi kembali ke kasus pembunuhan BB Los Angeles.
“Ryuzaki…” ucap Naomi Misora, melihat kartu nama hitam yang
telah diberikan padanya tanpa repotrepot
menyembunyikan
kecurigaannya. “Rue Ryuzaki, benar, kan?”
“Ya. Rue Ryuzaki,” jawab pria itu, dalam nada tak terganggu yang
sama. Matanya yang lebar menatap menembus lingkaran hitam di
sekelilingnya, dan ia menghisap ibu jarinya.
Mereka telah keluar dari kamar tidur ke dalam ruang tamu rumah
Believe Bridesmaid. Mereka duduk berhadapan pada sofa yang
mahal. Ryuzaki duduk dengan lutut ditarik ke atas dan lengan
yang mendekapnya. Misora pikir ini terlihat sedikit kekanakkanakan,
namun karena Ryuzaki jelasjelas
bukan anak kecil, ini
terlihat sedikit mengerikan. Fakta bahwa ia tidak bisa memberi
komentar kepada Ryuzaki, itu semua karena ia sudah terlalu
dewasa. Untuk mencairkan suasana diam yang canggung, Misora
menunduk pada kartu itu lagi—Rue Ryuzaki: Detektif.
“Menurut kartu ini, kau adalah seorang detektif?”
“Ya, benar,”
“Maksudmu… seorang detektif pribadi?”
“Tidak, istilah itu tidak begitu tepat. Saya merasa kata ‘pribadi’
membawa egoisme berlebihan… anda bisa menyebut saya
seorang detektif nonpribadi—
detektif tanpa ego.”
“Begitu, ya…”
Dengan kata lain, ia tidak memiliki lisensi.
Jika ia membawa pulpen, ia pasti sudah menuliskan “idiot” pada
kartunya, tapi sayangnya, tidak ada alat tulis yang bisa diraih, jadi
ia memutuskan untuk meletakkannya di meja sejauh mungkin
darinya, seolah itu benda yang menjijikkan.
“Jadi, Ryuzaki… kalau boleh kutanya lagi, apa yang sedang kau
lakukan di bawah sana?”
“Sama dengan anda. Menyelidiki,” jawab Ryuzaki, tanpa
perubahan ekspresi sedikit pun.
Mata bertepihitamnya
tidak pernah berkedip. Lebih seperti tidak
tenang.
“Saya disewa oleh orangtua pemilik rumah ini—oleh orang tua
Tuan Bridesmaid, dan saat ini saya sedang melakukan
penyelidikan pembunuhan. Sepertinya anda ada di sini untuk
alasan yang sama, Misora.”
Pada titik ini Misora tidak peduli lagi siapa Ryuzaki ini—detektif
pribadi atau nonpribadi,
yang jelas ia tidak ingin terlibat
dengannya. Satusatunya
yang menjadi masalah adalah berapa
banyak percakapannya yang telah didengar dari kolong tempat
tidur… yang dalam skenario terburuk dapat mempengaruhi karir
masa depannya. Jika informasi apapun mengenai L yang
misterius dipublikasikan karenanya, ia akan harus melakukan
lebih dari sekedar mengundurkan diri. Ia telah memulai topik ini
dengan baik, dan ia telah menganggap tempat tidur telah
menyamarkan suaranya sehingga Ryuzaki tidak bisa menangkap
apa yang ia katakan dengan jelas, namun ini bukanlah sesuatu
yang dapat ia percayai dengan mudah,
“Ya… Aku juga seorang detektif,” kata Misora, merasakan bahwa
ia tidak punya pilihan lain. Jika ia tidak sedang cuti, pasti ia sudah
mengaku sebagai agen FBI, namun karena sedang cuti, ia tidak
mau membahayakan diri jika ada yang ingin melihat lencananya.
Tampaknya lebih aman untuk berbohong—lagipula, ada
kemungkinan bahwa Ryuzaki juga sedang berbohong. Ia tidak
perlu merasa bersalah sama sekali.
“Aku tidak bisa mengatakan padamu kepada siapa aku bekerja,
tapi aku sudah diminta untuk menyelidiki secara diamdiam.
Untuk
menemukan siapa yang telah membunuh Believe Bridesmaid,
Quarter Queen, dan Backyard Bottomslash…”
“Benarkah? Kalau begitu kita bisa saling membantu!” katanya
segera.
Kegelisahannya pada saat ini secara aneh menjadi lega.
“Jadi, Ryuzaki. Apakah kau menemukan sesuatu di bawah kasur
yang mungkin berguna dalam menyelesaikan kasus ini? Kukira
kau tadi sedang mencari apapun yang mungkin ditinggalkan sang
pembunuh, tapi…”
“Bukan, bukan begitu. Saya mendengar seseorang memasuki
rumah, jadi saya memutuskan untuk sembunyi dan mengamati
situasi. Setelah beberapa saat tampak jelas bahwa anda bukan
orang yang berbahaya, jadi saya keluar.”
“Orang yang berbahaya?”
“Ya. Contohnya, pembunuh itu sendiri, kembali untuk mengambil
sesuatu yang ia lupakan. Jika memang benar begitu, maka
sungguh kesempatan bagus! Tapi sepertinya harapan saya siasia.”
Pembohong.
Ia bisa mencium kebohongan itu.
Misora sekarang hampir teryakinkan bahwa ia telah bersembunyi
di bawah sana untuk mendengarkan percakapannya dengan L. Di
situasi yang lain, ini mungkin hanya paranoia belaka, tapi orang
bernama Ryuzaki ini bukanlah orang biasa.
Tidak ada bagian dari dirinya yang tidak mencurigakan.
“Bagaimanapun, saya bertemu dengan anda sebagai gantinya,
jadi itu tidak benarbenar
mengecewakan. Ini bukan novel atau
komik, jadi tidak ada alasan untuk sesama rekan detektif
memandang rendah satu sama lain. Bagaimana menurutmu,
Misora? Setuju untuk bertukar informasi?”
“Tidak. Terimakasih atas usulnya, tapi aku harus menolak. Aku
memiliki tugas untuk menjaganya tetap rahasia,” balas Misora. L
telah memberikan padanya semua tentang kasus yang bisa
didapatkan siapa saja—tampaknya ia tidak akan mendapat
informasi apapun dari seorang detektif pribadi tidak
berpengalaman. Dan tentu saja, ia tidak berniat memberikan
apapun padanya. “Aku yakin kau juga memiliki rahasiamu sendiri.”
“Tidak.”
“Tentu saja kau punya. Kau seorang detektif.”
“Oh? Kalau begitu aku punya.”
Fleksibel.
Keduanya tampak baikbaik
saja untuknya.
“Tapi menurutku menyelesaikan kasus harus diprioritaskan…
Baiklah, Misora. Bagaimana kalau begini: saya akan menyediakan
segala informasi yang saya punya padamu tanpa imbalan.”
“Eh…? Uh, aku tidak mungkin…”
“Tolong. Sebenarnya, tidak penting apakah saya atau anda yang
memecahkan kasusnya. Harapan klienku adalah untuk melihat
kasusnya terpecahkan. Jika anda memiliki pikiran yang lebih
tajam dariku, maka memberitahumu segalanya akan jadi lebih
efektif.”
Semua itu terdengar manis, tapi ia tidak mungkin bersungguhsungguh,
jadi kewaspadaan Misora akan Ryuzaki tumbuh lebih
tajam. Apa yang diinginkannya? Beberapa menit yang lalu ia telah
mengarang sebuah kebohongan, mengaku bahwa ia berpikir
dirinya mungkin adalah pembunuh yang kembali ke tempat
kejadian, tapi teori itu tampak jauh lebih cocok untuk pria yang
bersembunyi di bawah kasur daripada ia.
“Anda boleh memutuskan untuk memberiku informasimu atau
tidak sesudahnya. Jadi, pertama, ini,” kata Ryuzaki, menarik
lipatan kertas dari saku jeansnya.
Ia memberikannya pada
Misora, tanpa repot membukanya dulu. Misora mengambilnya,
dan membukanya dengan ragu. . itu adalah tekateki
silang.
Sebuah rangkaian kotakkotak,
dan petunjuk dalam hurufhuruf
kecil. Misora memiliki firasat tentang benda apa ini.
“Ini adalah…”
“Oh? Kau tahu tentang itu?”
“Tidak… tidak secara langsung.” ia tergagap, tidak yakin harus
bagaimana harus bereaksi. Terlihat jelas bahwa ini adalah tekateki
silang yang sama dengan yang telah dikirim ke Kepolisian LA
tanggal 22 Juli, tapi L mengatakan bahwa tekateki
yang asli
sudah dibuang, jadi apakah ini salinan? Bagaimana pria ini…
bagaimana Ryuzaki dapat berjalanjalan
dengan benda ini terlipat
di kantongnya? Ketika ia berpikir dengan marah, Ryuzaki
memandangnya dengan tatapan penuh penilaian. Seakan ia
sedang menguji kemampuannya berdasarkan reaksinya…
“Biarkan saya menjelaskan. Bulan lalu, pada dua puluh dua Juli,
tekateki
silang ini dikirimkan pada Kepolisian LA oleh pengirim
yang tidak diketahui. Rupanya, tidak ada yang bisa
memecahkannya, tapi jika anda bisa memecahkannya, tekateki
itu menunjukan alamat dari rumah ini. Dapat diduga bahwa ini
adalah semacam peringatan dari pembunuh pada polisi dan
masyarakat pada umumnya. Sebuah pernyataan perang, boleh
dibilang.”
“Begitu rupanya. Tapi tetap saja…”
Disamping apa yang sudah dikatakan L, sebagian dari dirinya
sudah mengabaikan hal itu layaknya seperti tekateki
silang biasa,
tapi sekarang ketika ia bisa melihat petunjuknya dengan mata
kepala sendiri, tekateki
silang itu tampak sangat amat sulit.
Petunjuknya tampak sangat melelahkan sehingga kebanyakan
orang akan menyerah bahkan sebelum mencoba untuk
memecahkan salah satunya. Tapi pria di seberangnya telah
memecahkannya sendirian?
“Kau yakin jawabannya menunjukkan alamat ini?”
“Ya. Coba saja simpan dan pecahkan sendiri kalau anda ragu.
Bagaimanapun, pembunuh yang mengirim peringatan biasanya
mencari perhatian, kalau mereka tidak punya beberapa alasan
lain yang lebih besar. Dan aspek Wara Ningyo dan ruang tertutup
dari kasus cocok dengan kepribadian itu. Jadi kelihatannya
banyak kemungkinan adanya pesanpesan
lain… atau sesuatu
seperti pesan, ditinggalkan di tempat kejadian. Benar, kan,
Misora?”
Kesimpulan yang sama dengan L.
Siapa pria ini?
Jika ia hanya menyatakan sesuatu seperti L, Misora dapat
menyimpulkan bahwa ia mengatakannya berdasarkan
percakapan yang ia dengar dari bawah kasur, tapi untuk benarbenar
memiliki salinan dari tekateki
silang itu, sebuah tekateki
yang seharusnya hanya orang seperti L yang bisa dapatkan…
Pertanyaan akan identitas Ryuzaki sekali lagi telah menjadi
sangat penting untuknya.
“Permisi,” kata Ryuzaki, meletakkan kedua kakinya di tanah dan
menuju, masih membungkuk, ke dapur—seperti meluncur keluar
ruangan untuk memberi Misora waktu untuk menenangkan diri. Ia
membuka kulkas dengan gerakan terlatih, seakan ini adalah
rumahnya sendiri, memasukkan tangannya ke dalam, dan
mengeluarkan sebuah toples—dan kemudian meringkuk kembali
ke sofa, meninggalkan pintu kulkas terbuka. Benda itu tampaknya
setoples selai stroberi.
“Ada apa dengan selai itu?”
“Oh, ini milikku. Saya membawanya dan meletakkannya di sana
untuk menjaganya agar tetap dingin. Sudah waktunya makan
siang sekarang.”
“Makan siang?”
Masuk akal bahwa tidak akan ada makanan di kulkas orang yang
sudah mati dua minggu yang lalu, tapi makan siang? Misora
sendiri menyukai selai, tapi ia tidak melihat roti sama sekali—dan
tidak juga terlintas di pikirannya ketika Ryuzaki membuka
tutupnya, memasukkan tangannya ke dalam, menyendok selai,
dan mulai menjilatinya dari jarinya.
Naomi Misora menganga padanya.
Tidak ada katakata
yang keluar dari mulutnya.
“Mmm? Ada masalah, Misora?”
“Kkau
memiliki kebiasaan makan yang aneh.”
“Benarkah? Menurutku tidak.”
Ryuzaki menyendok segenggam lagi selai ke mulutnya.
“Saat saya mulai berpikir, saya mulai membutuhkan manisan. Jika
saya ingin bekerja dengan baik, selai itu diperlukan. Gula bagus
untuk otak.”
“Hunh…”
Misora berpendapat bahwa otaknya perlu perhatian medis khusus
lebih dari gula, tapi saat itu, ia tidak memiliki keberanian untuk
berkata begitu. Bahasa tubuhnya mengingatkannya pada Pooh
Bear, tapi Ryuzaki tidak kuning ataupun menggemaskan, dan
tidak mirip beruang sama sekali, melainkan seorang pria tinggi
dengan punggung bungkuk. Saat ia sudah memakan empat
genggam penuh selai, ia meletakkan bibirnya langsung ke tepi
toples seakan itu adalah secangkir teh dan menyeruput isinya
dengan berisik. Dalam beberapa saat ia sudah menghabiskan
seluruh toples.
“Maaf untuk penundaannya.”
“Oh… tidak apaapa.”
“Saya punya selai lagi di kulkas, anda mau?”
“Ttidak
terimakasih…”
Makanan itu seperti siksaan. Ia bahkan akan menolaknya kalau
pun ia sudah kelaparan sampai mati. Setiap serat di tubuhnya
menolak Ryuzaki. Sepenuhnya. Misora tidak pernah memiliki
kepercayaan diri untuk memalsukan senyuman, tapi satu yang ia
tujukan padanya saat ini tampak sangat meyakinkan.
Orang dapat tersenyum bahkan saat ketakutan.
“Oke,” kata Ryuzaki, menjilati selai dari jarijarinya,
tidak
menunjukkan tanda bagaimana Misora memandang reaksinya.
“Jadi, Misora, ayo pergi.”
“Pergi? Pergi ke mana?” tanya Misora, dengan siasia
mencoba
untuk menemukan cara menolak berjabat tangan dengannya.
“Jelas,” kata Ryuzaki, “Untuk melanjutkan penyelidikan kita pada
tempat kejadian, Misora.”
Pada saat ini, Misora seharusnya masih mampu untuk (dengan
egois) memilih jalannya pada apa yang akan datang. Ia dapat
secara fisik melempar Ryuzaki keluar dari rumah Believe
Bridesmaid, dan kita bahkan dapat mengatakan, bahwa
melakukan itu adalah reaksi yang paling bijaksana akan
keberadaannya, tapi disamping menjadi sangat, sangat tertarik
untuk mengambil langkah bijaksana, Misora meyakinkan dirinya
untuk membiarkan Ryuzaki tinggal. Lebih dari apapun,
kemungkinan bahwa ia telah menguping percakapannya dengan
L membuat Ryuzaki berbahaya, dan bahkan mengabaikan bahwa
ia mencurigakan, mengerikan, dan memiliki salinan tekateki
silang itu, yang telah menutup kesepakatan. Ia perlu menjaganya
dalam pengamatan sampai ia memiliki ide lebih baik tentang siapa
Ryuzaki. Pastinya, siapapun yang tahu lebih banyak tentang
situasinya, siapapun seperti aku, bisa mengatakan bahwa ini
tepatnya yang Ryuzaki harapkan, tepatnya yang ingin ia raih, tapi
akan jadi terlalu berlebihan jika mengharapkan Naomi Misora
untuk menyadarinya sedini ini. Lagipula, beberapa tahun setelah
Kasus Pembunuhan Los Angeles BB, ketika ia dibunuh oleh Kira,
Misora tetap yakin bahwa ia belum pernah bertemu dengan L
secara langsung, bahwa ia hanya mematuhi perintah suara6/
sintesisnya dari layar komputernya. Tergantung bagaimana kau
melihatnya, ini mungkin saja hal yang bagus untuk dunia bahkan
si pembunuh Kira, yang jika ia tahu sedikit saja seberapa dalam
hubungan Misora dengan L, tidak akan membunuhnya begitu
cepat. Hidup L hanya bertambah beberapa tahun lebih, tapi
bahkan itu bisa juga berkat Misora… nah, tidak penting untuk
mendugaduga.
Kembali ke titik ini.
Siapapun yang telah membaca Sherlock Holmes akan mengingat
deskripsi gamblang dari seorang detektif yang berkeliling
ruangan, mengamati lekatlekat
segala sesuatu melalui kaca
pembesar. Sebuah kesan khas yang bekerjasama dengan novel
detektif tua yang mana orang tidak pernah melihat detektif
bertindak seperti itu lagi. Untuk hal itu, istilah novel detektif hampir
tidak pernah digunakan—mereka dipanggil novel misteri, atau
novel mengerikan. Tidak ada yang menginginkan detektif yang
benarbenar
menduga segalanya—jauh lebih menarik jika mereka
hanya mengatakan kebenarannya. Sama seperti komik untuk
anak lelaki di Jepang, populer di seluruh dunia. Semua buku yang
paling populer memiliki pahlawan dengan pengecualian kekuatan.
Jadi ketika mereka memasuki kamar tidur dan Ryuzaki tibatiba
turun dan mengambil posisi merangkak, persis seperti saat ia
keluar dari bawah kasur, dan mulai merangkak ke seluruh
ruangan (sekalipun tanpa kaca pembesar) Misora benarbenar
terkejut. Kelihatannya, berada di bawah tempat tidur bukan satusatunya
alasan untuk sikapnya ini. Ia tampak begitu terbiasa
mengahbiskan waktu merangkakrangkak
sampai ia terlihat akan
memanjat dinding dan melintasi langitlangit.
“Apa yang kau tunggu, Misora? Bergabunglah denganku!”
Misora menggelengkan kepala cepat sekali hingga membuat
pandangannya kabur.
Itu menghina kehormatannya sebagai wanita. Bukan, sebagai
manusia—bergabung dengannya akan selamanya
memisahkannya dari sesuatu yang sungguhsungguh
penting.
“Oh? Sayang sekali,” kata Ryuzaki, rupanya tidak pernah memiliki
sesuatu yang penting itu dari awal. Ia menggelengkan kepalanya
dengan sedih dan melanjutkan menyelidiki ruangan.
“Ttapi
Ryuzaki… menurutku tidak ada lagi yang tertinggal disini
untuk ditemukan. Maksudku, polisi sudah mencarinya dengan
sangat teliti…”
“Tapi polisi melewatkan tekateki
silangnya. Sama sekali tidak
mengejutkan bagiku jika mereka melewatkan sesuatu yang lain di
sini.”
“Jika kau menganggapnya seperti itu… tapi hanya ada sangat
sedikit hal yang diketahui. Aku harap aku memiliki petunjuk untuk
apa yang harusnya kucari—ruangannya terlalu kosong untuk
hanya asal memeriksanya secara acak. Dan rumah ini terlalu
luas.”
“Sebuah petunjuk…?” kata Ryuzaki, berhenti di tengah gerakan
setengahmerangkak.
Lalu perlahan ia menggigit jempolnya
dengan hatihati
sampai tampak seperti sedang berfikir sangat
keras, namun arti gerakan itu terlalu kekanakkanakan
yang
membuatnya terlihat sangat bodoh juga. Misora tidak bisa
memutuskan mana yang keluar jadi pemenang. “Bagaimana,
Misora? Ketika anda masuk, apakah anda memikirkan sesuatu?
Apapun yang bisa membantu menyempitkannya?”
“Emm… ya, tapi…”
Ada satu hal tentang potongan di dada korban. Ia sepenuhnya
tidak yakin ia harus mengatakan semua itu pada Ryuzaki. Tapi, di
sisi lain memang benar bahwa ia tidak bergerak kemanamana…
baik dengan kasusnya, atau dengan Ryuzaki. Mungkin ia harus
menguji Ryuzaki, seperti halnya ia telah mengamati reaksi Misora
saat ia mengulurkan padanya tekateki
silang itu. Jika Misora bisa
memainkan kartunya dengan benar, ia mungkin bisa mengetahui
apakah Ryuzaki telah mendengar teleponnya dari bawah kasur.
“Baik… Ryuzaki, sebagai ucapan terimakasih atas sebelulmnya,
daripada sebuah pertukaran informasi yang lengkap… lihatlah
foto ini.”
“Foto?” kata Ryuzaki, dengan reaksi yang sangat dibesarbesarkan
hingga orang akan mengira ia tidak pernah mendengar
kata itu sebelumnya. Ryuzaki mendekat padanya… masih dengan
merangkak, dan tidak repotrepot
membalik badan. Ia benarbenar
merangkak mundur kearahnya, sebuah gerakan yang pasti
sudah membuat anak kecil menangis.
“Sebuah gambar korban.” kata Misora, menyerahkan foto otopsi
padanya.
Ryuzaki mengambilnya, mengangguk penting—atau membuat
seolah sedang mengangguk penting. Cukup dengan
pengujiannya dari reaksi tak terbayangkan Ryuzaki, ia benarbenar
tidak dapat menyimpulkan apapun.
“Bagus, Misora!”
“Ya?”
“Berita tidak menyebutkan bahwa tubuhnya dipotong seperti ini,
yang berarti foto ini berasal dari dokumen kepolisian. Saya kagum
bahwa anda bisa mendapatkannya. Anda jelas bukan detektif
biasa.”
“…Jadi bagaimana kau mendapatkan tekateki
silang itu,
Ryuzaki?”
“Itu akan tetap menjadi rahasiaku.”
Serangan baliknya dipatahkan dengan sangat mudah. Ia
terlambat berharap bahwa ia telah membolehkan Ryuzaki untuk
menolak bahwa ia memiliki rahasia, bahwa ia tidak pernah
mengajarinya konsep itu sejak awal. Ia juga sangat yakin itu tidak
masuk akal secara gramatikal.
“Saya juga tidak bertanya bagaimana kau mendapatkan foto ini,
Misora. Tapi bagaimana ini bisa berhubungan dengan idemu?”
“Ya, baiklah… Kupikir jika pesannya mungkin berada pada
sesuatu yang sudah tidak ada di ruangan lagi, tapi ada di ruangan
pada saat itu. Dan yang hal yang paling jelas yang seharusnya
ada disini, tetapi tidak ada…”
“Adalah pemilik ruangan, Belive Bridesmaid. Pintar.”
“Dan jika kau melihat gambar itu dari sudut yang benar… apakah
bekas luka itu terlihat seperti huruf bagimu? Kupikir mungkin itu
adalah semacam pesan…”
“Oh?” kata Ryuzaki, menahan gambarnya tetap diam sempurna
ketika ia menggerakkan kepalanya dengan tersentaksentak.
Apakah tidak ada tulang yang padat di lehernya? Ia bergerak
seperti manusia karet. Misora melawan keinginannya untuk
berpaling. “Bukan, bukan huruf.”
“Bukan? Kukira terbaca seperti itu…”
“Bukan, bukan, Misora, saya tidak menyangkal seluruh idenya,
hanya sebagian. Ini bukan huruf, tapi angka Romawi.”
Oh.
Benar, angka Romawi, hal yang sama yang ia lihat pada jam dan
rak dinding setiap hari—V dan I, jelas, dan C, M, D, X, dan L… ia
harusnya sudah menduganya ketika ia melihat tiga I saling
6/3/2016 Death Note: Another Note The
Los Angeles BB Murder Case, Chapter 2
http://chiakiichirin.
blogspot.co.id/2013/02/deathnoteanothernotelosangelesbb_
624.html 15/28
berdekatan—itu bukan tiga I, tapi III. Tapi ada L juga setelahnya,
dan ia telah menghubungkannya dengan nama detektif itu dan
teralih sendiri.
“I adalah satu, II adalah dua, III adalah tiga, IV adalah empat, V
adalah lima, VI adalah enam, VII adalah tujuh, VIII adalah
delapan, IX adalah sembilan, X adalah sepuluh, L adalah lima
puluh, C adalah seratus, D adalah lima ratus, M adalah seribu.
Jadi luka ini bisa dibaca sebagai 16, 59, 1423, 159, 13, 7, 582,
724, 1001, 40, 51, dan 31,” kata Ryuzaki, membaca angkaangka
yang rumit tanpa sedetikpun jeda. Apakah ia ahli dalam angka
Romawi, atau apakah pikirannya benarbenar
bekerja secepat
itu?
“Ini cuma foto, jadi mungkin saya tidak membacanya dengan
benar, tapi ada delapan puluh persen kemungkinan saya benar.”
“Persen?”
“Bagaimanapun, saya takut itu tidak mengubah situasi. Kecuali
kita bisa menemukan apa seharusnya arti angkaangka
itu, akan
sangan berbahaya menduga bahwa mereka adalah pesan dari si
pembunuh. Mungkin mereka pengalih perhatian.”
“Permisi, Ryuzaki,” kata Misora, mengambil satu langkah ke
belakang.
“Untuk apa?”
“Aku harus membenahi riasanku.”
Tanpa menunggu respon, Misora meninggalkan kamar tidur dan
menaiki tangga, menuju toilet di lantai dua (bukan di lantai satu).
Ia mengunci pintunya dari dalam dan mengeluarkan telepon
genggamnya. Ia raguragu
sesaat, lalu menelepon L. Di saluran
nomor lima. Beberapa bunyi bip singkat, dan akhirnya terhubung.
“Ada apa, Naomi Misora?”
Suara sintetis itu.
Merendahkan suaranya dan menyembunyikan mulutnya di balik
tangannya, Misora berkata, “Sesuatu yang harus kulaporkan.”
“Kemajuan dalam kasus? Kerja yang sangat cepat.”
“Bukan… yah, sedikit. Aku mungkin telah menemukan sebuah
pesan dari si pembunuh.”
“Mengagumkan.”
“Tapi bukan aku yang menyadarinya. Bagaimana
mengatakannya… semacam detektif pribadi yang misterius…”
Seorang detektif pribadi misterius.
Kalimat itu hampir membuatnya tertawa.
“…baru saja muncul.”
“Begitu,” suara sintetis itu berkata, lalu terdiam.
Itu adalah kesunyian yang sama sekali tidak nyaman untuk
Misora, ia telah memutuskan untuk menunjukkan gambar itu pada
Ryuzaki dan bermaksud mengujinya. Ketika L tidak mengatakan
apaapa,
Misora melanjutkan dengan menjelaskan apa yang
Ryuzaki katakan tentang foto otopsi itu. Dan bahwa ia memiliki
salinan dari tekateki
silang itu. Sepotong informasi ini akhirnya
menghasilkan reaksi dari L, tapi karena itu hanyalah suara
sintetis, ia tidak bisa membaca emosi di baliknya.
“Apa yang harus kulakukan? Sebetulnya, kupikir berbahaya untuk
melepaskan pandanganku darinya.”
“Apakah ia keren?”
“Hunh?”
Pertanyaan L benarbenar
keluar dari pembicaraan, dan ia
memaksa untuk menanyakannya untuk kedua kalinya sebelum
Misora menjawab, masih tidak bisa mengerti dengan arah
pembicaraan.
“Tidak, sepenuhnya tidak,” katanya jujur, “Menyeramkan dan
menyedihkan, dan sangat mencurigakan hingga jika aku tidak
sedang cuti, aku akan langsung menahannya ketika aku
melihatnya. Jika kita membagi semua orang di dunia menjadi
yang lebih baik mati atau tidak, tak ada keraguan di benakku
bahwa ia akan jadi yang pertama. Benarbenar
orang aneh yang
membuatku kagum bahwa ia belum membunuh dirinya sendiri.”
“…”
Tidak ada jawaban.
Tentang apa ini sebenarnya?
“Naomi Misora, instruksi anda.”
“Ya?”
“Saya membayangkan bahwa anda berfikir hal yang kurang lebih
sama dengan saya, tapi biarkan detektif pribadi ini melakukan apa
yang disukainya untuk sementara. Sebagian karena itu berbahaya
membiarkannya lepas dari pengawasan anda, tapi lebih penting
lagi karena sangat penting untuk mengamati gerakannya. Saya
percaya pujian untuk dugaan foto autopsi lebih menjadi milik anda
daripada miliknya, tapi ia jelas bukan orang biasa.”
“Aku setuju.”
“Apakah ia ada di dekat sini?”
“Tidak, aku sendirian. Aku menelepon dari kamar mandi, di lantai
atas dan di belakang rumah, jauh dari kamar tidur.”
“Segera kembalilah ke sisinya. Saya akan menyelidikinya, dan
mencoba untuk menemukan apakah seorang detektif bernama
Ryuzaki benarbenar
telah disewa oleh orangtua Believe
Bridesmaid.”
“Baik.”
“Anda bisa menggunakan saluran yang sama lain kali

menelepon.” Dan ia menutup telepon.
Misora menutup teleponnya.
Ia harus kembali secepatnya, sehingga tidak akan tampak
mencurigakan, tapi ia telah meninggalkannya dengan waktu yang
kurang tepat, pergi ke kamar mandi.
Ryuzaki sedang berdiri tepat di depan pintu. “Eek…!”
“Misora. Anda ada di atas sini?”
Ia tidak sedang merangkak, tapi meskipun begitu, Misora
menelan ludah. Sudah berapa lama ia ada di sana?
“Setelah anda keluar dari ruangan, saya menemukan sesuatu
yang menarik dan tidak bisa menunggu. Jadi saya menyusul.
Apakah anda sudah selesai?
“Yya…”
“Kemarilah.”
Ia berderap keluar, masih membungkuk, menuju tangga. Masih
terguncang, Misora mengikutinya. Apakah ia telah mendengarkan
semuanya dari balik pintu? Pertanyaan ini menyiksanya. Ia
menemukan sesuatu yang menarik? Itu mungkin saja hanya
beberapa kalimat… ia telah menjaga suaranya sangat pelan
sehingga tidak mungkin ia bisa mendengar, tapi bagaimanapun ia
telah hampir pasti mencoba untuk menguping. Yang berarti…
“Oh, Misora,” kata Ryuzaki, tanpa berbalik.
“Yya?”
“Kenapa saya tidak mendengar suara siraman toilet sebelum
anda keluar ruangan?”
“Sepertinya terdengar kasar untuk menanyakan hal seperti itu
pada seorang gadis, Ryuzaki,” ucap Misora akhirnya, agak
canggung karena kesalahannya. Ryuzaki tidak tampak
terpengaruh.

“Benarkah? Bagaimanapun… belum terlambat kalau anda belum
menyiramnya. Anda masih bisa kembali. Gender dianggap sama
saja kalau berhubungan dengan kebersihan.”
Cara yang benarbenar
menyeramkan untuk menyimpulkannya.
Dalam setiap katanya.
“Aku tadi sedang menelepon. Laporan teratur untuk klienku.
Tapi
aku tidak ingin kau mendengarnya.”
“Oh? Tapi tetap saja, mulai sekarang, lebih baik anda
menyiramnya. Untuk kamuflase juga bagus.”
“Sepertinya begitu.”
Mereka sampai di kamar tidur. Ryuzaki langsung merangkak
setelah melewati ambang pintu. Terlihat lebih seperti kegiatan
religius pembawa sial daripada penyelidikan Sherlock Holmes.
“Di sebelah sini.” Ryuzaki meraih dirinya sendiri melewati karpet
ke arah rak buku.
Rak buku milik Believe Braidsmaid, dengan limapuluhtujuh
buku
yang tertata rapi. Itu adalah tempat pertama yang diselidikinya
setelah berbicara dengan L.
“Kau bilang kau menemukan sesuatu yang baru?”
“Ya. Sesuatu yang baru—tidak, lebih tepatnya begini. Saya sudah
menemukan fakta penting.”
Usaha Ryuzaki untuk terlihat keren mengganggunya. Ia
mengabaikannya.
“Jadi, maksudmu, kau menemukan semacam petunjuk, begitu?”
“Lihat,” kata Ryuzaki, menunjuk sisi kanan rak kedua dari bawah.
“Ada sebelas seri dari komik Jepang terkenal bernama Akazukin
Chacha.”
“Lalu?”
“Saya suka komik ini.”
“Benarkah?”
“Ya.”
Bagaimana ia harus merespon? Berlawanan dengan harapannya,
ia merasakan ekspresinya melembut, namun tidak berusaha
untuk memeriksa penolakan dalam dirinya, saat Ryuzaki
melanjutkan.
“Kau Nikkei, bukan?”
“Nikkei…? Kedua orangtuaku berasal dari Jepang. Pasporku
sekarang memang Amerika, tapi aku tinggal di Jepang hingga
setelah SMA…”
“Jadi anda pasti tahu komik ini. Ciptaan legendaris Min Ayahana.
Saya membaca semua serinya. Shiine benarbenar
mengagumkan! Saya suka animenya
juga. Cinta dan keberanian
dan harapan—Holy Up!”
“Ryuzaki, kau mau seperti ini dulu beberapa saat? Kalau begitu,
aku akan menunggu di ruangan lain…”
“Kenapa anda melakukannya saat saya bicara denganmu?”
“Er, um… maksudku, aku juga menyukai Akazukin Chacha. Aku
menonton animenya.
Aku juga mengalami cinta, keberanian,
harapan dan Holy Up.”
Ia benarbenar
ingin memberitahu Ryuzaki tepatnya betapa
sedikit kepeduliannya pada hobi Ryuzaki, namun diragukan
apakah detektif pribadi ini bisa mengerti pendapat yang ditujukan
padanya masuk akal. Meragukan seperti Ryuzaki sendiri.
Atau apakah itu terlalu membesarbesarkan?
“Bagus. Kita harus membicarakan detil kesenangan yang diberika
anime di lain waktu, tapi untuk sekarang, lihat di sini.”
“Hunh…” ucap Misora, melihat serial Akazukin Chacha di rak buku
dengan patuh.
“Menyadari sesuatu?”
“Tidak juga…”
Itu hanyalah setumpuk komik. Pada dasarnya mereka dapat
menyimpulkan Believe Braidsmaid pintar berbahasa Jepang, dan
menyukai komik… tapi banyak orang seperti itu di Amerika.
Membaca versi Jepang asli dan bukan terjemahannya juga bukan
hal yang benarbenar
aneh. Dengan adanya jual beli Internet,
sangat mudah untuk mendapatkannya.
Mata bertepigelap
Ryuzaki menatap lurus padanya. Merasa tidak
nyaman, Misora menghindari tatapannya, memeriksa setiap seri.
Namun bahkan setelah ia selesai memeriksa semuanya, ia tidak
menemukan fakta yang menarik atau apapun yang bisa dijadikan
petunjuk.
“Aku tidak melihat apaapa…
ada sesuatu tentang satu dari
komikkomik
ini?”
“Tidak.”
“Hah?” Ada lebih dari nada marah dari suaranya. Ia tidak suka
dipermainkan. “Tidak? Apa maksudmu?”
“Bukan salah satu,” kata Ryuzaki. “Sesuatu yang seharusnya ada
di sini, tetapi tidak ada. Misora, anda lah yang menemukannya—
pesan apapun dari sang pembunuh menunjukkan apapun yang
seharusnya ada menjadi tidak ada. Anda lah yang menemukan
bahwa ini berarti tubuh Believe Braidsmaid. Saya tidak berpikir
saya harus menjelaskan ini padamu—lihat baikbaik,
Misora.
Tidak semua ada di sini. Seri keempat dan kesembilan hilang.”
“Eh?”
“Akazukin Chacha ada tiga belas seri. Bukan sebelas.”
Misora melihat bukubuku
itu lagi, dan nomornya berurutan dari
satu, dua, dan tiga ke lima, enam, tujuh, dan delapan ke sepuluh.
Jika Ryuzaki benar, dan ada tiga belas seri, jadi dua seri
menghilang—seri empat dan sembilan.
“Hmm… benar. Tapi… Ryuzaki, lalu kenapa? Maksudmu
pembunuhnya mengambul dua seri itu bersamanya? Itu memang
mungkin, tapi sepertinya mereka memang menghilang dari awal.
Mungkin ia bermaksud mengambilnya nanti. Tidak semua orang
membaca komik berurutan, kau tahu. Maksudku, mungkin ia
berhenti di tengahtengah
bagian Dickwood, di sini…”
“Mustahil,” kata Ryuzaki, yakin “Tidak ada yang akan melewati
dua seri di tengahtengah
Akazukin Chacha. Say benarbenar
yakin fakta ini dapat diterima di pengadilan.”
Pria ini pernah ada di pengadilan?
“Atau paling tidak, jika anggota jaksa tahu banyak tentang komik
Jepang.”
“Jaksa yang buruk.”
“Pembunuhnya jelas jelas
membawa buku buku
itu bersamanya,”
kata Ryuzaki, terangterangan
mengacuhkannya. Misora tidak
akan membiarkan ini. Kakinya tertanam di tanah yang lebih
realistis.
“Tapi kau tidak punya bukti sama sekali, Ryuzaki. Sama
mungkinnya jika ia hanya meminjamkannya pada seorang
teman.”
“Akazukin Chacha?! Anda bahkan tidak akan meminjamkannya
pada orangtuamu! Anda akan menyuruh mereka membelinya
sendiri! Satusatunya
penjelasan yang mungkin adalah pembunuh
itu mengambilnya!” Ryuzaki bersikeras, cukup memaksa.
Ia tidak berhenti di sana.
“Lagipula, tidak ada seorangpun yang hanya ingin membaca seri
keempat dan kesembilan—saya berani mempertaruhkan selaiku!”
“Jika maksudmu selai yang tadi kau makan, setoples hanya
berharga sekitar lima dolar.”
Min Ayahana pasti akan menjadi sangat kecewa.
“Jadi itu cocok, Misora, bahwa saat pembunuh itu memindahkan
dua seri dari ruangan, ia menggantinya dengan benda lain, untuk
alasan yang sama sekali tak ada hubungannya.”
Karena dua buku itu memang menghilang, mengabaikan logika
dan kemungkinan untuk saat ini dan mengikuti hipotesis ini…
“Tetap saja aneh, ‘kan? Maksudku, Ryuzaki, rak buku ini…”
Terisi penuh. Sangat rapat sehingga akan sulit untuk
memindahkan sebuah buku. Jika ia benarbenar
memindahkan
dua seri, maka seharusnya akan ada celah… atau…
“Ryuzaki. Apa kau tahu berapa banyak halaman dari buku
keempat dan kesembilan Akazukin Chacha?”
“Ya. 192 halaman dan 184 halaman.”
Ia tidak mengharapkan Ryuzaki untuk tahu jawabannnya… tetapi
192 ditambah 184 adalah 376 halaman. Misora memandang
sekilas sepanjang rak, mencari dari limapuluhtujuh
buku untuk
sebuah buku setebal 376 halaman. Tidak butuh waktu lama.
Hanya ada satu buku setebal itu di rak ini—
Insufficient Relaxation oleh Permit Winter.
Ketika ia mengambilnya dari rak, memang, buku itu benarbenar
376 halaman.
Misora membukabuka
halamannya dengan penuh harap, tapi ia
tidak menemukan hal yang terlihat menarik.
“Ada apa, Misora?”
“Oh… aku berpikir jika pembunuhnya menaruh pengganti di rak
untuk menggantikan dua buku yang diambilnya dan jika pengganti
itu adalah pesan yang sebenarnya.”
Dengan asumsi memang Believe Bridesmaid yang telah
menyusun bukunya dengan hatihati
sehingga mengisi rak
dengan tepat. Mungkin saja itu terjadi terburuburu,
dan sang
pembunuh mengisi dengan buku dari ruangan lain sekenanya—
dan dengan pikiran itu, tidak ada yang tahu apakah Akazukin
Chacha memang milik Belive Bridesmaid. Dengan kurangnya
pembatas buku, mungkin saja itu bagian dari pesan pembunuh—
tapi lalu apa? Jika memang begitu, hanya akan membuatnya lebih
jelas bahwa ada pesan yang tertinggal. Tapi jika tidak ada yang
aneh pada rak buku itu sendiri, maka seluruh teori runtuh. Tidak
lebih dari sekedar khayalan.
“Tidak buruk. Bukan, malah sangat bagus—selain itu tak akan
masuk akal,” kata Ryuzaki, meraih ke arah Misora.
Sesaat ia mengira Ryuzaki ingin berjabat tangan, dan panik, tapi
kemudian ia menyadari Ryuzaki hanya menginginkan Insufficient
Relaxation. Ia menyerahkannya pada Ryuzaki. Ryuzaki
mengambilnya dengan telunjuk dan ibu jarinya, dan mulai
membaca. Membaca cepat—ia melewati 376 halaman dengan
kecepatan luar biasa.
Kurang dari lima menit untuk membaca seluruh buku.
Misora hampir ingin membuatnya membaca Natsuhiko
Kyogoku[1].
“Saya tahu!”
“Eh? Kau menemukan sesuatu?”
“Tidak. Tidak ada apapun di sini. Jangan melihatku seperti itu.
Saya bersumpah, saya tidak bercanda. Ini hanya novel hiburan,
bukan pesan, atau bahkan metafora seperti Wara Ningyo. Dan
tentu saja, tidak ada huruf apapun yang tersembunyi di antara
halaman, atau tersisip di garis tepi.”
“Garis tepi?”
“Ya, tidak ada apapun di garis tepi kecuali nomor halaman.”
“Nomor halaman?” gaung Misora. Nomor halaman… angka?
Angka, seperti… angka Romawi?
“Ryuzaki, jika potongan di dada korban adalah angka Romawi,
apa yang dikatakannya”
“16, 59, 1423, 159, 13, 7, 582, 724, 1001, 40, 51, dan 31.”
Ingatan yang bagus. Bahkan tanpa melihat kembali fotonya.
Hampir seperti ingatan fotografis—pertama halaman buku, dan
sekarang ini.
“Kenapa dengan itu?”
“Mungkin saja mereka menunjukkan halaman dalam buku ini,
tapi… dua dari angkaangka
itu empat digit. Buku itu hanya
setebal 376 halaman. Tidak cocok.”
“Ya… tidak, Misora, bagaimana jika itu berputar balik? Contohnya,
476 bisa dilihat sebagai 376 ditambah seratus, dan menunjukkan
halaman 100.”
“…yang maksudnya?”
“Aku tidak tahu. Coba saja… 16 mudah, halaman 16. 59, 1423,
159, 13, 7, 582, 724, 1001, 40, 51, 31…”
Ryuzaki menyipitkan mata bertepigelapnya.
Bahkan tidak melihat buku. Benarkah? Bahkan dalam kecepatan
membaca seperti itu, ia mengingat seluruh isinya dengan
sempurna? Apakah itu mungkin? Apakah ia benarbenar
bisa
melakukannya? Apapun itu, Misora hanya bisa berdiri dan
menunggu.
“… aku tahu.”
“Bahwa tidak ada apapun di sana?”
“Tidak… ada sesuatu di sana. Sesuatu yang sangat spesifik,
Misora.” Ryuzaki menyerahkan Insufficient Relaxation kembali ke
Misora. “Buka halaman 16,” ucapnya.
“Baik.”
“Apa kata pertama halaman itu?”
“Quadratic.”
“Selanjutnya halaman 59. Kata pertamanya?”
“Ukulele.”
“Selanjutnya halaman 295. 1423 berputar tiga kali, dan mencapai
295 di putaran keempat. Kata pertama?”
“Tenacious.”
Mereka melanjutkan. 159 adalah halaman 159, 13 adalah 13, 7
adalah 7, 582 adalah 206, 752 adalah 348, 1001 adalah 249, 40
adalah 40, 51 adalah 51, dan 31 adalah 31, dan di setiap
halaman, Misora membacakan kata pertamanya. Secara
berurutan: “rabble,” “table,” “egg,” “arbiter,” “equable,” “thud,”
“effect,”“elsewhere,” dan “name.”
“Jadi.”
“Jadi… apa?”
“Ambil huruf pertama dari setiap kata.”
“Huruf pertama? Um…”
Misora kembali ke masingmasing
halaman lagi. Ia tidak memiliki
ingatan yang buruk, tetapi tidak bisa mengingat dua puluh kata
sekaligus. Paling tidak, tidak tanpa diperingatkan bahwa ia harus
melakukannya.
“QUTRTEAETEEN…
qutr te a teen? Apa?”
“Sangat mirip dengan nama korban kedua, benar?”
“Mungkin…”
Korban kedua. Gadis berumur tigabelas
tahun. Quarter Queen.
“Ada kemiripan yang samar… Quarter Queen… hanya ada empat
huruf berbeda.”
“Ya. Bagaimanapun,” kata Ryuzaki, enggan. “Empat huruf dari
dua belas terlalu banyak. Sepertiga dari mereka salah. Bahkan
jika satu huruf saja berbeda, seluruh teorinya runtuh. Kecuali itu
sesuai dengan sempurna, tidak bisa dibilang pesan. Kukira akan
ada sesuatu, tapi mungkin saja hanya kebetulan…”
“Tapi… untuk sebuah kebetulan…”
Terlalu jelas.
Bagaimana bisa?
Itu pasti disengaja.
Disengaja… atau abnormal.
“Tetap saja, Misora… tidak cocok tetap tidak cocok. Kita tadi
sangat dekat, tapi…”
“Tidak, Ryuzaki. Coba pikir. Empat nomor yang salah adalah
nomor di atas 376. mereka semua angka yang harus diputar
balik.”
Ia membalik melintasi halaman, memeriksanya lagi. Halaman 295,
kata pertama: tenacious, huruf pertama: T, huruf kedua E, huruf
ketiga N, huruf keempat.. A.
“Tiga kali putaran, dan di putaran keempat… kita tidak
menggunakan huruf pertama, melainkan huruf keempat. Bukan T,
tetapi A. Dan dengan 582, dan “arbiter”, sekali memutar dan di
putaran kedua menghasilkan R bukannya A. Itu mengubah
Qutrtea menjadi Quarter.”
Dengan logika yang sama, “equable” adalah 724, jadi sekali
memutar, pada putaran kedua, huruf kedua: Q.
Dan dengan 1001 dan “thud”—bukan T, tetapi U. Itu membuat
Eteen menjadi Queen. Quarter Queen. L memang benar.
Pembunuhnya meninggalkan pesan.
Potongan di tubuh, dua buku yang hilang—pembunuhnya telah
meninggalkan pesan. Sama seperti tekateki
silang yang dikirim
pada polisi, sebuah pesan menjelaskan korban berikutnya…
“Kerja bagus, Misora,” kata Ryuzaki, tenang. “Analisis yang
sangat bagus. Tak pernah terlintas di pikiranku.”


COPAS? IJIN DULU!


1 komentar: